Harga ayam broiler sepanjang tahun 2010 mengalami fluktuasi yang begitu hebatnya, dimana harga ayam jatuh di bawah BEP di awal tahun, tepatnya di kuartal pertama (Januari-Februari-Maret) dan sebagian kuartal kedua (April-Mei). Sementara mulai Juni s.d. Oktober harga sangatlah bagus, sehingga bisa menutup kerugian di kuartal pertama dan kedua.
Pada menjelang akhir tahun 2010 yaitu bulan November dan Desember, harga menurun tapi cenderung impas, sehingga sepanjang tahun 2010 bisa dibilang positif atau menguntungkan. Margin yang didapatkan berkisar di 10-15%, tergantung ongkos produksi yang bisa di efisienkan. Disinilah banyak yang mulai menghitung ongkos produksi DOC dan pakan yang merupakan komponen utama dari beban biaya produksi peternakan ayam broiler.
Dengan harga DOC yang stabil di angka Rp 4.500 - 5.000/ekor, jika dipanen di berat badan 1.7 kg/ekor maka DOC membebani biaya produksi sebesar 2.650-2.950/kg. Jika harga jual ayam adalah Rp 13.000/kg, maka DOC membebani biaya produksi sebesar 22%, sementara pakan mengambil porsi biaya sebesar 60-70%. Sangatlah wajar jika peternak mulai menghitung bagaimana cara melakukan efisiensi biaya produksi ini, terutama dari DOC dan pakan yang secara akumulatif mengambil porsi biaya 80-90%.
Dari hitungan kasar (kalkulasi sementara) harga pokok produksi DOC berada di kisaran Rp 2.600-2.700/ekor, margin dari bisnis produksi DOC hampir 100%. Sedangkan pakan, dengan kisaran harga di Rp 4.500-5.000/kg, margin dari produsen pakan bisa mencapai Rp 700-800/kg atau sekitar 16%. Nah, beberapa peternak yang memiliki kekuatan modal cukup besar mulai berlomba-lomba membangun Breeding Parent Stock untuk bisa menghasilkan DOC sendiri, dengan maksud dipelihara sendiri atau dijual bebas sisanya. Dan juga ada berusaha membuat pabrik pakan sendiri agar bisa menghemat ongkos produksi, untuk mengarah kepada bisnis integrasi seperti yang dilakukan perusahaan besar. Karena peternak ayam broiler didominasi di daerah Jawa Barat, dan populasi ayam broiler di jawa didominasi oleh Jawa Barat, maka banyak ditemukan breeding baru di Jawa Barat ini.
Kecenderungan bertambahnya breeding di Jawa Barat yang dilakukan oleh perorangan maupun perusahaan besar yang sudah establish, membuat prediksi banyak pelaku ayam broiler bahwa di 2011 akan terjadi banjir DOC, dan dikhawatirkan harga ayam broiler akan jatuh karena terjadinya over supply daging ayam broiler. Dan kenyataan bahwa harga ayam broiler di awal tahun 2011 tidak begitu menggembirakan seakan menjadi benarnya prediksi tersebut. Namun, benarkah demikian?
Naiknya harga bahan baku pakan ternak akibat jeleknya hasil panen jagung di dalam negeri, dan Bungkil kedelai di amerika latin yang hasil panennya juga sedang merosot menambah derita peternak. Harga pakan ternak mengalami kenaikan besar, dalam dua bulan awal tahun ini sudah terjadi kenaikan pakan ayam broiler sebesar Rp 400/kg, terbagi dalam dua tahap kenaikan yaitu akhir januari naik Rp 200/kg, dan pertengahan februari naik Rp 200/kg. Sementara awal maret akan terjadi kenaikan lagi sebesar Rp 100/kg. Sementara yang katanya akan terjadi banjir DOC di 2011, ternyata harga DOC masih di kisaran Rp 4.500-5.000/ekor, dan sepertinya tidak terbukti banjir DOC. Namun, harga ayam broiler hidup di kisaran Rp 12.000-13.000/kg untuk berat hidup 1.7 kg/ekor, dan BEP ada di Rp 13.000 lebih. Praktis saat ini peternak merugi.
Ternyata bukan banjir DOC yang mengancam, tapi membumbung tingginya kenaikan harga bahan baku pakan yang menyebabkan naiknya BEP untuk menghasilkan 1 kg ayam broiler yang menyebabkan kerugian. Lalu kemanakah hasil DOC dari banyak penambahan breeding ini? Untuk menjawabnya akan dibahas pada artikel berikutnya, tunggu posting berikutnya.
No comments:
Post a Comment