Saturday, February 19, 2011

Situasi pasar Ayam Broiler, Telur, Daging Sapi, dan Daging Babi

Merangkak naiknya bahan pakan tidak diimbangi dengan kenaikan harga end product komoditas peternakan. Pakan yang membutuhkan persentase biaya produksi sebesar 70% sangat mempengaruhi Break Even Point (BEP) produk peternakan. Sehingga wajar jika peternak merasa terbebani dengan kondisi kenaikan harga pakan ini.

  • DOC ayam broiler sekarang di kisaran Rp 5.000/ekor, harga pakan Rp 5.200/kg, Overhead Cost Rp 1.850/ekor, dengan asumsi Body Weight (BW) panen 1.7 kg/ekor dan Feed Convertion Ratio (FCR) 1.7, maka BEP = Rp 12.785/kg. Harga jual sekarang di kisaran Rp 12.000/kg, maka sudah minus Rp 785/kg. Minggu kemarin harga jual sempat anjlok di harga Rp 10.800. Jadi untuk saat ini bisnis ayam broiler memang sedang dalam tekanan.
  • DOC ayam petelur di kisaran Rp 5.500/ekor, harga pakan Rp 3.800/kg, jika rata-rata produksi per 1.000 ekor sepanjang tahun adalah 50 kg/1000 ekor, maka BEP untuk bisa berputarnya siklus bisnis dalam 1 tahun di kisaran Rp 12.350/kg, harga jual telur saat ini adalah Rp 13.000, jadi masih plus Rp. 350/kg, masih cerah wajah para peternak ayam petelur
  • Jargon pemerintah untuk bisa swa sembada daging sapi 2014 masih membutuhkan penjabaran yang lebih detail. Pembatasan kuota impor sapi bakalan (BW 350 kg/ekor) sebesar 500.000 ekor per tahun membutuhkan substitusi kebutuhan sapi bagi para pelaku peternakan penggemukan sapi potong atau lebih dikenal Feed lot. Harga sapi impor Brahman Cross dari Australia naik tajam dari Rp 21.000/kg sapi hidup menjadi Rp 26.500/kg. Padahal harga jual di dalam negeri hanya bisa menyerap di harga Rp 24.000/kg. Logika sederhananya, jika kita beli sapi impor tersebut kemudian langsung dijual, sudah rugi Rp 2.500/kg, atau sama dengan Rp 875.000/ekor. Kenaikan harga tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu situasi Australia yang sedang dilanda banjir di beberapa tempat menyulitkan pengiriman sapi ke pelabuhan, jadi ongkos angkut meningkat tajam. Selain itu pembatasan maksimal BW yang diijinkan pemerintah kita untuk diimpor maksimal 350kg/ekor, dimana rata-rata BW adalah di 400 kg/ekor, sehingga supply untuk BW tersebut terbatas. Untuk saat ini para pelaku Feed lot banyak melirik ke sapi bakalan lokal yang harganya Rp 23.000/kg. Harapannya populasi sapi lokal dengan BW 350 kg/ekor masih melimpah, disinilah masalahnya. Sumber sapi bakalan lokal tersebar, jada tataniaga nya memerlukan rantai bisnis yang lebih panjang, yaitu dari peternak-perantara1-perantara2-pengumpul besar-Feed lot. Masalah yang lain adalah keseragaman performance sapi bakalan tersebut yang sangat variatif disebabkan berbeda-bedanya manajemen pemeliharaan peternak.
  • Bisnis babi sedang menanjak, setelah isu flu babi di tahun 2006 menghantam, dengan efek harga jual babi sempat merosot tajam di harga Rp 8.000/kg, sehingga banyak peternak yang merugi besar, bahkan  banyak yang menderita kebangkrutan. Saat ini, demand daging babi sedang naik tajam, padahal supply terbatas, sehingga harga jual babi mencuat di harga Rp 23.000/kg. Kondisi ini menggairahkan bagi peternakan babi.
Demikian sedikit review kondisi bisnis peternakan terkini, semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment