Friday, February 11, 2011

Gairah harga komoditas ternak dan Perayaan Tahun Baru Imlek

Perayaan Tahun Baru Imlek 2562 yang jatuh pada tanggal 3 Februari 2011 cukup menggairahkan pasar komoditas ternak, ini ditandai dengan tren positif pergerakan harga komoditas ternak. Tentunya ini menjadi sinyal positif untuk menatap prospek bisnis peternakan di tahun 2011 ini.

Harga komoditas unggas menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan minggu sebelumnya.
Harga di wilayah Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (jabodetabek) :
  • Ayam Broiler dengan berat hidup 1,6 kg-ke atas = Rp 12.800/kg (minggu sebelumnya Rp 11.200/kg)
  • DOC Ayam Broiler = Rp 4.500/ekor
  • Telur = Rp 12.200/kg (minggu sebelumnya Rp 11.00/kg)
  • DOC Ayam Layer = Rp 5.500/ekor
  • Ayam Layer Afkir = Rp 10.000/kg
  • Ayam Pejantan Layer = Rp 21.000/kg
  • DOC Ayam Pejantan Layer = Rp 3.500/ekor
Harga komoditas babi menunjukkan tren kenaikan paling tinggi dikarenakan suplai yang kurang dibandingkan demand yang cukup tinggi. Populasi yang berkurang akibat harga jual yang anjlok di kisaran Rp 8.000/kg imbas isu flu babi pada tahun 2006, berangsur membaik di pertengahan 2010. Saat ini harga jual babi mencapai harga Rp 23.000/kg. Harga piglet (anak babi) mencapai Rp 600.000/ekor dengan berat 12 kg/ekor. Saat ini peternak babi sedang bergairah untuk pengembangan populasi.

Komoditas sapi yang sekarang ini sedang kurang gairah, terutama pelaku bisnis penggemukan sapi yang notabene sapi bakalan didapatkan dari luar negeri (impor). Karena harga sapi impor jenis Brahman cross dari Australia naik tajam, sekarang harganya di Rp 26.000-27.000/kg berat hidup, sementara harga jual sekarang di Rp 23.000-24.000/kg berat hidup. Jadi tanpa perlakuan apapun, impor sapi bakalan jika langsung dijual sudah pasti mendapatkan kerugian sebesar Rp 3.000/kg. Kenaikan harga sapi bakalan Australia ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
  • Pembatasan berat badan sapi bakalan oleh pemerintah maksimal di 350 kg/ekor, sementara populasi yang lebih banyak adalah sapi dengan berat badan di atas 350 kg
  • Cuaca ekstrim di Australia di beberapa sentra sumber bibit sapi bakalan terkena banjir, sehingga akses menuju pelabuhan juga terhambat, hal ini menaikkan ongkos transportasi
Sementara harga sapi bakalan lokal masih di kisaran Rp 23.000/kg berat hidup, sehingga para pengusaha penggemukan sapi sekarang lebih melirik sapi bakalan lokal. Namun masalahnya kualitas sapi bakalan lokal sangat bervariasi dan tersebar di banyak lokasi, tidak terkonsentrasi pada satu lokasi. Jadi perlu usaha ekstra untuk mendapatkan sapi bakalan lokal tersebut, karena disamping harga sapi bakalan impor tersebut sekarang mahal, kuota impor sapi bakalan juga dibatasi di 500.000 ekor di tahun 2011, padahal di tahun 2010 masih di sekitar 900.000 ekor.

Namun demikian secara keseluruhan bisnis di bidang peternakan menunjukkan gairah positif, meskipun juga harus menghadapi kenaikan bahan baku pakan ternak akibat suplai yang berkurang. Sehingga memangkas margin keuntungan di saat harga produk akhir mengalami kenaikan akibat harga ongkos produksi yang juga naik. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana menekan ongkos produksi agar bisa dicapai efisiensi proses produksi, sehingga secara jangka panjang bisnis bisa tetap tumbuh dan berkembang.

1 comment:

  1. salam dari sumut buat para peternak, silahkan kunjungi toko kami dan belanja online :
    http://www.majubersamaps.com/

    ReplyDelete