Industri peternakan ayam mengalami kemajuan yang pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, dengan pertumbuhan populasi rata-rata 7% per tahun. Pada tahun 2010 populasi ayam broiler tercatat mencapai 1.3 Miliar ekor, sedangkan ayam layer mencapai 85 juta ekor, dengan perputaran bisnisnya senilai 45 Triliun.
Namun demikian, perbankan kelihatan masih trauma dengan banyaknya kasus gulung tikarnya peternak ayam di tahun 2003 akibat terserang Avian Influenza (AI). Padahal untuk saat ini kasus AI tersebut relatif sudah tertanggulangi, artinya tidak sporadis seperti waktu 2003. Kalaupun masih muncul kasus AI, bisa dilokalisir dan segera ditangani.
Bisnis ayam broiler saat ini didominasi oleh perusahaan besar, dikarenakan membutuhkan modal besar untuk perputaran bisnisnya, terutama untuk menjamin cash flow nya. Sedangkan bisnis ayam petelur cenderung dipegang oleh peternak perorangan, dikarenakan perputaran bisnisnya yang lebih lama, tidak secepat bisnis ayam broiler. Sehingga bisnis ayam petelur kurang menarik minat perusahaan.
Disamping faktor penyakit, memang diakui oleh beberapa peternak bahwa ada oknum peternak yang dulunya menjadi nasabah bank, namun tidak memenuhi kewajibannya. Kondite jelek inilah yang membuat bank memberikan lampu merah kepada peternak, terutama peternak ayam broiler.
Harga end product dari ayam broiler yang sangat fluktuatif, mirip dengan harga saham di pasar modal yang menyebabkan bisnis ini rentan dengan ancaman kebangkrutan. Jika memiliki populasi besar, dan pada saat harga jual jatuh di bawah Break Even Point (BEP), peternak bisa merugi sangat besar. Harus memiliki cadangan modal 6 kali siklus produksi dalam 1 tahun, dibawah itu maka sangat mungkin untuk bangkrut.
Ongkos sosial peternakan ayam sekarang juga sangat tinggi, dimana ijin HO untuk mendirikan kandang juga dipersulit. Berbagai pungutan liar dialami oleh peternak, terutama pada waktu panen, baik itu penduduk setempat, preman, pejabat, dan lain-lain. Sehingga margin keuntungan peternak semakin tergerus tiap tahun, dari yang sebelumnya bisa sampai 15-20%, sekarang rata-rata dibawah 10% sampai hanya 5%.
Mungkin inilah yang menyebabkan perbankan tidak berani terjun di dunia bisnis peternakan, mungkin pemerintah perlu turun tangan agar peternak bisa lebih berkembang dengan fasilitas pinjaman bank. Harga end product yang diserahkan pasar murni juga bukan mencerminkan ekonomi kerakyatan, hal ini cenderung menjagi ekonomi liberal. Diperlukan kebijakan yang lebih arif untuk menjamin harga end product ini tidak jatuh dibawah harga BEP.
No comments:
Post a Comment